315 Kilometer [end]

Reads
289
Votes
13
Parts
13
Vote
Report
Penulis Andi Yudaprakasa

D. Meniti Karir

Jam 06.30 WIB.

Yatra berjalan keluar kamar kost sambil mengikat dasi. Lalu ia menaiki motornya— membiarkan mesinnya menyala beberapa menit sambil mengenakan jaket dan helm. Gerakannya menjadi lebih efisien.
Seperti auto-pilot.

Kehidupan dan rutinitasnya sebagai pekerja di Surabaya seolah membuat waktu bergulir begitu cepat. Tak terasa sudah setahun berlalu sejak ia bekerja sebagai analis di perusahaan finance tersebut.

Sifat laki- laki Yatra yang berani dengan resiko, cermat dalam perhitungan, berpikir logis, dan presisi membuat prediksi— telah mengantarkannya menjadi leader di tim analis kredit.
Bahkan Nitya yang lebih senior saja mengakui kemampuan lelaki itu. Ia bahkan terkadang berkonsultasi dengan Yatra dalam menangani klien nya.

Gedung kantor yang dulu gagah itu kini terasa yah— biasa saja. Tak lagi wah, tak lagi mengintimidasi.
Yatra berjalan cepat, membalas sapaan sekuriti dengan gumaman tanpa menoleh.

Di mejanya, menumpuk beberapa folder file klien. Layar komputer yang menyala menunjuklan 12 email belum terbaca di Outlook nya;
-Tiga memo kerjaan dengan batas waktu hari ini.
-Meeting dengan all dept head jam 14.00 WIB.
-Dua balasan dari tim Manajemen Resiko.

Yatra meletakkan tas nya, duduk menyandar di kursi. Ia menyisip kopi sambil membaca beberapa email dengan tanda urgent.

"Yatra," Nitya mendekati mejanya, membawa sebuah file klien yang mereka tangani. "Anak marketing naikin case PT. Fastex ke manajemen."

Yatra masih membaca email nya, tak menoleh. "Karena kolateralnya kurang, kan?"

Nitya mengangguk, meletakkan file Fastex ke meja Yatra. "Gudang mereka yang di wilayah Perak kebanjiran."

"Sudah ketebak," Yatra meletakkan gelas kopinya.

"Terus," Nitya menunduk sambil memainkan ujung blousenya. "Nanti siang manajemen ingin aku ngejelasin semuanya, karena aku yang approve pinjaman mereka."

Yatra melirik ke arah inbox emailnya. Pantesan hari ini ada meeting mendadak.

"Gimana dong," Nitya menggigit bibir dengan suara gemetaran. "Aku takut, Tra. Nanti di meeting bantuin aku ya, please?"

Yatra mengangguk, menatap wajah Nitya yang pucat. Setahun yang lalu, mungkin ia juga akan menunjukkan reaksi yang sama. Tapi sekarang, entah kenapa Yatra merasa ia bisa.
Ia pun meraih file Fastex di atas meja. "Biar aku baca- baca dulu."

-----

Jam 14.00 WIB.

Ruang rapat di ujung lorong itu terlihat mencekam. Meja yang ada di tengah, penuh terisi oleh para departemen head yang hendak mendengar penjelasan dari tim Analis.

Nitya berdiri di depan dengan slide presentasi tentang Fastex dan semua perhitungannya. Nitya sedikit terbata, namun ia bisa membawakan materinya dengan baik.

Di saat Nitya tak mampu menjawab pertanyaan manajemen, Yatra mengambil alih. Jawaban- jawaban logis Yatra membawa arah rapat menjadi lebih terkendali.

"Lalu bagaimana?" tanya Marketing.

"Kita akan tawarkan ulang, lakukan adjustment pada jumlah pinjaman yang bisa disetujui" Yatra mengacungkan dua jari. "Atau meminta guarantee dari perusahaan untuk aset mereka."

Manajemen mengangguk setuju. "Disetujui ulang setelah adanya adjustmen."

"Oke, kita akan lakukan itu."

Nitya di depan menghembus nafas lega. Bibirnya berucap 'terima kasih' tanpa suara.

Yatra menarik nafas panjang.
Setahun yang lalu ia adalah anak baru yang bukan siapa- siapa. Sekarang, bahkan staff seniornya meminta bantuannya. Dan bahkan sekarang, apa yang ia rekomendasikan membuat pengaruh dalam pengambilam keputusan perusahaan.

Yatra tersenyum.

-----

Menjelang matahari tenggelam.

Yatra masih duduk di tempatnya, bersiap pulang sambil mematikan komputer dan merapikan area kerjanya. Ia baru saja memasukkan barang- barangnya ke dalam tas saat mendengar ponsel nya bergetar di meja— Yatra terbiasa menggunakan mode getar selama kerja agar tidak berisik.

Yatra menoleh, dan mendapati nama 'ibu' di layar.
Ia tersenyum dan langsung menggeser icon berwarna hijau.

"Halo, ibu?" sapa Yatra.

"Halo Le, sudah makan? Gimana di sana?" tanya ibunya. Hal pertama yang ia tanyakan adalah tentang keadaan anaknya.

"Sudah Bu. Ini baru selesai, persiapan pulang sekalian mampir beli makan," Yatra mengapit ponselnya di bahu dan telinga, sementara ia menutup risleting ranselnya dengan kedua tangan.

"Ibu sudah terima transferannya, banyak banget kirimnya nggak apa?" tanya ibunya lagi. "Nanti kamu di sana uangnya cukup?"

"Cukup Bu," jawab Yatra lagi meyakinkan. "Aku dapat banyak bonus kok."

Ibu di sana terdiam beberapa lama. Yatra meraih jaketnya dan menenteng ransel itu, hendak beranjak ketika ibu berkata.

"Kemarin, Bapak panen," ujar ibunya memberi informasi. Ibu selalu berhati- hati jika hendak membicarakan soal Bapak kepada Yatra.

Yatra berjalan meninggalkan ruangan. Suara sepatunya terdengar sedikit nyaring. "Oh."

"Nggak terlalu bagus, banyak yang rusak karena hujan terus," tambah ibu lagi.

"Berarti uang kirimanku kepakai kan?" Yatra berjalan menatap lurus arah depan.

"Iya Le, terima kasih ya," ujar ibunya di seberang telepon. "Hati- hati pulangnya. Kamu sehat- sehat di sana."

"Baik Bu. Aku pulang dulu," pamit Yatra sebelum memutus panggilan telepon. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku.

Terbukti.
Bahwa apa yang ia usahakan di sini sangat membantu kehidupan ibu di desa. Bahkan membantu saat panen —yang setiap tiga bulan sekali itu, hasilnya kurang bagus.
Ia memang tak berkontak langsung dengan Bapak.
Tapi rasanya Yatra bangga, bahwa ia bisa membuktikan pada Bapak bahwa keputusannya untuk meninggalkan desa tidaklah salah.

Yatra tersenyum.

Terbukti kan, Pak?

Other Stories
Desviar : Libur Dari Kata-kata

Dua penulis yang berniat berlibur justru terjebak dalam kolaborasi tak disengaja ketika ke ...

Ayudiah Dan Kantini

Waktu terasa lambat karena pahitnya hidup, namun rasa syukur atas persahabatan Ayudyah dan ...

Keluarga Baru

Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...

Sinopsis

hdhjjfdseetyyygfd ...

Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara

Aditya Pranawa adalah mantan pilot TNI AU yang seharusnya mati dalam sebuah misi rahasia. ...

Balada Cinta Kamilah

Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...

Download Titik & Koma